Pertanian merupakan industri penting untuk wanita. Dalam perkembangan dunia, persentase terbesar dari pekerja wanita adalah terlibat dalam pertanian (70% di Asia Selatan dan 60% di Sub-Saharan Africa). Tetapi wanita memiliki produktivitas yang lebih rendah dari laki-laki. Hal ini wajar terjadi karena kurangnya pelatihan, akses keuangan dan
faktor budaya. Sebagai contoh, wanita bahkan tidak memiliki akses input modern seperti produk perlindungan tanaman, pupuk, dan benih. Hanya 39% dari petani perempuan yang memiliki akses untuk benih baru, dibandingkan dengan petani laki-laki yaitu 59%.
Hal tersebut menambah hilangnya produksi. Wanita dapat memproduksi 20-30% makanan lebih dari kebun mereka jika mereka dapat mengakses input yang sama seperti laki-laki.
Dari memberdayakan petani wanita, kita dapat memberi makan sekitar 150 miliar orang.
Menurut Tn Tebetes dalam artikelnya di KOMPASIANA tentang Peran Perempuan Dalam Pertanian,
Semenjak gerakan deklarasi oleh kaum perempuan pada tahun 1963 lewat resolusi yang di ultimatum langsung oleh badan ekonomi sosial PBB,praktis gerakan kesetaraan mulai di perjuangkan sehingga melahirkan deklarasi dari hasil konfrensi PBB tahun 1975
Saat ini, kesetraan gender benar-benar menjadi agenda global yang tertuang pada program suitanable Development Goals (SDGs)oleh PBB pada tahun 2015 dengan 17 program yang berlaku bagi negara berkembang.
Kenapa negara berkembang? Karena persoalan pembangunan masih menjadi kiat karena bentuk permasalahan pembangunan yang memprihatinkan, terutama pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan ekonomi.
Perilaku dunia berkembang juga berada pada taraf praktek berbagai bentuk ketidakadilan sehingga kesempatan membangun negara berkembang didorong dengan program khusus PBB tersebut.
Salah satu conceren pada program seperti yang di singgung diatas adalah mmembangun kesetaraan gender.
Perdebatan kesetaraan pada negara berkembang karena bentuk budaya patriarki dalam lingkungan keluarga mapun lingkungan sosial telah mendeskripsikan dan mendiskreditkan mereka pada segala bidang padahal, jika di telusuri secara teliti secara cermat, perempuan memiliki andil dan kontribusi pada segala bidang.
Salah satunya adalah peran perempuan terhadap pembangunan ekonomi pertanian yang cukup besar. Berdasarkan data dari FAO Focus (2009) yang dilansir oleh World Health Organization (WHO), Kontribusi perempuan mampu memproduksi 60 % sampai 80 % pangan di sebagian besar negara-negara berkembang dan bertanggung jawab pada sebagian produksi pangan dunia dengan kontribusi pada setiap subsistem pertanian.
Pentingnya kontribusi perempuan memberikan implikasi bahwa kedepan tantangan untuk membangun ekonomi khususnya pembangunan ekonomi sektor pertanian (agribisnis) dipandang perlu untuk melibatkan perempuan terutama dalam perumusan kebijakan.
Pembangunan ekonomi pertanian akan membuka peluang perempuan untuk terlibat lebih jauh. Keterlibatan yang dimaksud adalah jika selama ini perempuan selalu sulit mengakses informasi, keuangan, lahan, maupun sumber daya lain maka dengan pertanian yang sustainable akan memberikan peluang untuk berpartisipasi lebih jauh.
Gender dalam tantangan Pertanian
Dalam rilis World Economic Forum (WEF), Global Gender Gap Report, Indonesia menempati peringkat ke 92 dari 145 negara dalam hal kesetaraan gender. Indikator penting yang telah dicapai adalah akses kesehatan dan pendidikan terhadap perempuan yang meningkat, terutama desa-desa pelosok yang notabenenya adalah keluarga petani.
Akan tetapi dalam beberapa aspek, kesetaraan ini belum mengalami kemajuan yang berarti diantaranya ketimpangan ekonomi serta pemerataan pembangunan. Dalam bidang politik, pasrtisipasi perempuan di parlemen juga masih sangat kecil walaupun representasi pada kabinet Jokowi--Jusuf Kalla, perempuan sedikit lebih banyak dibanding kabinet-kabinet sebelumnya.
Dalam sejarah perjalanan politik Indonesia, presentase politik perempuan tidak mencapai angka 30 % seperti yang ditetapkan oleh resolusi PBB. Capaian partisipasi politik perempuan yang tak kurang dari 17 % adalah catatan kritis bahwa di eksekutif, legislatif, dan yudikatif perempuan belum memiliki peran yang sama dengan laki-laki untuk menyuarakan hak-haknya termaksud didalamnya kesetaraan gender petani perempuan yang berdomisili dibasis-basis produksi pertanian.
Keterlibatan peran perempuan dalam pertanian Indonesia ditunjukan dengan data sensus Pertanian Tahun 2013 (ST2013) yang menunjukan sekitar 23 persen atau 7,4 juta petani di Indonesia adalah perempuan, data ini akan terus bertambah seiring bertambahnya jumlah penduduk. Fakta bahwa keterlibatan perempuan dalam pertanian di Indonesia tidak dapat di pandang sebelah mata.
Perempuan sebagai ibu rumah tangga bertanggung jawab atas pangan rumah tangga, gizi yang baik bagi keluarga dan keamanan pangan.tanggung jawab ini sepenuhnya milik perempuan sehingga menurut BPS (BPS, 2015), budaya konsumsi termaksud nilai-nilai sosial dan asupan gizi keluarga ada di tangan perempuan
Namun, Kontribusi serta peran nyata perempuan dalam ketahanan pangan tidak diimbangi dengan kondisi ekonomi terutama gap tentang pendapatan antara laki-laki dan perempuan. Dari data Gender 2016 menunjukan bahwa pendapatan perempuan jauh lebih rendah dari laki-laki yakni sekitar 8,6 juta rupiah dibandingkan 14 juta rupiah. Walaupun sumbangsi perempuan dalam bidang pekerjaan sudah lebih baik tetapi kontribusi terhadap pendapatan negara hanya berkisar 36.03 persen.
Kesertaraan pada hak pemberian upah yang sangat kecil juga menjadi isu dan tantangan membangun kesetaraan di dunia, karena Negara dengan peringkat terbaik seperti Islandia saja masih mengalami masalah yang sama yaitu, posisi upah perempuan masih jauh di bawah standar.
Petani perempuan diberikan upah yang dan jam kerja yang sedikit karena penilaian fisik, Upah perempuan Indonesia menurut data Gender hanya berkisar 300.000 Rupiah per bulan. Sehingga menurut Arjani (2016), seberat apapun perempuan bekerja di pertanian tetap dianggap sebagai pembantu suami. Tantangan upah yang layak perlu di advokasi lebih lanjut, agar menjadi pemerataan yang sempurna terutama upah petani perempuan yang bekerja pada subsistem pengelolahan maupun pada sektor industri.
Tantangan yang lebih lanjut adalah, mensejajarkan peran petani perempuan dalam mengakses modal, mengakses informasi, mempunyai peluang yang sama dalam pengambilan keputusan, terlibat dalam kelompok tani, serta kontrol terhadap pemerataan pembangunan.
Artinya keterlibatan wanita dalam prospek pertanian kedepan akan memberikan garansi keamanan pangan bukan hanya untuk rumah tangga saja akan tetapi untuk nasional. Maka dalam pembangunan ekonomi perlu kebijakan yang baik dengan mengedepankan kesetaraan gender teruma persoalan peran perempuan.
Kontribusi yang besar terbesar terhadap pertanian tidak bisa dilihat sebagai pelaku kedua dalam sistem pertanian akan tetapi perlu di sejajarkan peranya dengan laki-laki. Dan tantangan terbesar adalah mengadvokasi hak perempuan untuk memenuhi kouta 30 persen pada bidang politik hingga akan mendorong perempuan untuk memperjuangkan hak-hak yang setara,upah yang layak, kesehatan, pendidikan, modal dan minimal perempuan mempunyai kekuatan membuat keputusan yang berkaitan dengan kesetaraan petani perempuan.
sumber : croplife.org
https://www.kompasiana.com/ojhy/5a10dba24d669139e837f6d4/peran-perempuan-dalam-pertanian?page=2

0 komentar:
Posting Komentar